Kamis, 04 September 2008

penyebab tsunami


Gempa-gempa yang paling mungkin dapat menimbulkan tsunami adalah gempa yang terjadi di dasar laut, kedalaman pusat gempa kurang dari 60 km, magnitudo lebih besar dari 6,0 skala Richter, serta jenis penyesaran gempa tergolong sesar naik atau sesar turun.


Pascabencana gempa dan gelombang tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam 26 Desember 2004, kata "tsunami" kini makin populer di Indonesia. Padahal sejak 1992 tsunami mulai dikenal masyarakat di negeri ini ketika terjadi bencana tsunami di Flores pada 12 Desember. Meski mulai dikenali, namun belum dipahami secara benar.


Menurut Dr Nanang T Puspito, dosen dan Kepala Laboratorium Seismo-tektonik di Jurusan Geofisika dan Meteorologi Institut Teknologi Bandung, dapat dimaklumi jika tsunami belum dipahami secara benar oleh masyarakat awam, karena tsunami sering disalah-artikan sebagai gelombang pasang. Padahal, sangat berbeda artinya.


Ia menyebutkan gelombang pasang terjadi karena adanya gaya tarik bulan terhadap bumi. Sedangkan tsunami, berasal dari bahasa Jepang "tsu" dan "nami" yang arti harfiahnya adalah gelombang di pelabuhan atau pantai, yang terjadi karena adanya gangguan impulsif pada air laut akibat terjadi perubahan bentuk dasar laut secara tiba-tiba.


Nanang menyebut penyebab tsunami dapat berasal dari tiga sumber, yaitu gempa, letusan gunung api, dan longsoran yang terjadi di dasar laut. Menurut dia, dari ketiga penyebab timbulnya tsunami itu, gempa merupakan penyebab utama. Besar atau kecilnya gelombang tsunami sangat ditentukan oleh karakteristik gempa yang menyebabkannya.


Gempa-gempa yang paling mungkin dapat menimbulkan tsunami adalah gempa yang terjadi di dasar laut, kedalaman pusat gempa kurang dari 60 km, magnitudo lebih besar dari 6,0 skala Richter, serta jenis penyesaran gempa tergolong sesar naik atau sesar turun. Gempa-gempa semacam itu biasanya terjadi pada zona subduksi, zona bukaan, dan zona sesar.


Dikatakannya pula bahwa kecepatan penjalaran gelombang tsunami berkisar antara 50 km sampai 1.000 km per jam. Pada saat mendekati pantai, kecepatannya semakin berkurang, karena adanya gesekan dasar laut. Tetapi, tinggi gelombang tsunami justru akan bertambah besar pada saat mendekati pantai.


Ia menyebutkan gelombang tsunami mencapai ketinggian maksimum pada pantai berbentuk landai dan berlekuk seperti teluk dan muara sungai. Pada pantai semacam ini, tinggi gelombang tsunami dapat mencapai puluhan meter.


Seperti gempa Flores tahun 1992 dengan magnitudo 6,8 SR, secara teoritis akan menghasilkan gelombang tsunami setinggi satu sampai dua meter di episenter gempa. Namun, pada saat tiba di pantai Flores, gelombang tsunami mencapai ketinggian maksimum sekitar 24 meter.

Tidak ada komentar: